klaudiani.com

Logic will bring you from A to B, imagination will take you anywhere

Fantasy Fiesta 2012 Sudah Dimulai!

No Comments »

April 9th, 2012 Posted 6:30 am

Alright! Fantasy Fiesta 2012 sudah dibuka! Silakan bergabung ke Kastil Fantasi dan mengobrol lebih lanjut di Forum Kastil Fantasi Goodreads :D

Posted in Uncategorized

Berawal Dari Membaca

2 Comments »

January 28th, 2012 Posted 2:21 pm

Buku

Semenjak kecil, saya menghasrati membaca lebih dari apa pun. Sejak belajar membaca di umur empat tahun–berkat orangtua yang mengajari saya di rumah–saya mencoba membaca huruf apa pun yang muncul di hadapan saya: buku-buku dongeng sederhana yang dibelikan untuk saya, billboard di jalanan, headline koran, dan–yang biasanya berakhir sia-sia karena terlalu cepat ditangkap mata–subtitle di televisi.

Umur lima tahun saya masuk ke TK dan menjadi anak pertama di kelas Nol Kecil yang bisa membaca, dan ini menyebabkan saya menjadi pembawa acara di perpisahan kelas Nol Besar, kakak kelas saya tahun itu. Saya berdiri di depan mikrofon sambil membaca susunan acara yang tertera di selembar kertas tebal. Ibu saya tersenyum bangga dari tempat duduknya di antara hadirin, dan saya ingat rekan-rekannya sesama ibu mengungkapkan kekaguman karena sekecil itu saya sudah bisa membaca dengan lancar meski masih cadel. Ini mungkin tidak seberapa bagi orang lain, tetapi saya bersyukur bisa membuat ‘prestasi’ yang disaksikan langsung oleh beliau, karena tiga tahun kemudian ia meninggal.

Karena sudah lancar membaca, belajar di kelas satu SD sangat menyenangkan. Saya memperoleh warisan buku pelajaran Bahasa Indonesia dari sepupu, tidak hanya buku-buku kelas satu, tapi sampai kelas lima. Jadi ketika teman-teman masih mengeja i-ni i-bu Bu-di, saya membaca cerita rakyat di buku pelajaran yang seharusnya baru saya baca empat tahun kemudian.

Orangtua saya mungkin menyadari hal ini. Maka saya dihadiahi banyak buku cerita. Ali Baba, Putri Salju, Cinderella, dan favorit saya yang puluhan kali dibaca sampai halamannya lepas: Dongeng Hans Christian Andersen. Hari Kamis adalah hari yang sangat saya tunggu-tunggu, dan kedatangan ayah saya dari kantor selalu saya nantikan dengan perasaan berbunga-bunga, karena tahu ia akan membawakan majalah Bobo untuk saya. Biasanya saya akan membaca bagian Keluarga Bobo di halaman belakang, lalu Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang di balik sampul depan, kemudian mencari serial Pak Janggut yang biasanya ada di halaman tengah. Lalu majalah terpaksa disimpan untuk dibaca keesokan harinya sepulang sekolah, karena malam itu saya harus belajar.  Tetapi biasanya seluruhnya sudah saya baca di hari Minggu, sehingga saya punya empat hari tanpa bacaan sampai Bobo berikutnya saya terima.

Beruntung bagi saya karena tepat di depan rumah ada perpustakaan. Saya mulai sering berkunjung ke sana untuk menyewa komik dan majalah anak-anak, menghabiskan jatah uang jajan harian yang dengan susah payah saya kumpulkan setiap hari. Uang jajan itu tidak banyak, tapi saya rela tidak beli camilan di sekolah supaya bisa menyewa buku. Kebiasaan ini kelak berlanjut sampai saya dewasa; buku adalah harta berharga bagi saya dan saya rela menyisihkan uang untuk membeli buku yang saya inginkan, meski kadang harganya terlalu mahal. Pada akhirnya, kesukaan saya membaca menjadikan saya satu-satunya murid di kelas tiga yang mengarang cerita liburan ke pantai dengan adegan hampir hanyut terbawa ombak yang dramatis, sementara yang lain menulis tentang kejadian yang datar dan lebih berkesan jurnal ketimbang berbentuk cerita pendek yang sesungguhnya. Mungkin inilah saat-saat pertama saya mulai menulis–yang hanya disadari oleh guru dengan memberi nilai tinggi–dan saya benar-benar menikmatinya tanpa berpikir kalau suatu hari saya bisa mencari nafkah darinya.

Ibu saya meninggal tepat saat saya sedang liburan kelas dua SD, lalu saya tinggal dengan kerabat yang cukup berada, yang membelikan anak-anaknya koleksi ensiklopedia bergambar. Sayalah yang menghabiskan seluruh seri ensiklopedia itu, sementara anak-anaknya lebih suka main boneka. Seumur hidup, seingat saya, saya hanya punya satu boneka anak perempuan yang saya namai Lani (pemberian sepupu saat kelas dua, dan baru rusak ketika sama SMU), satu boneka Barbie (yang langsung dibelikan ayah saya sebagai hadiah ranking satu saat kelas empat), satu boneka anjing-mirip-bantal yang saya peroleh setelah bekerja (hadiah ketika apply kartu kredit), dan satu boneka beruang yang saya peroleh bulan lalu (dari sebuah perusahaan travel). Saya lebih banyak bermain dengan boneka kertas bongkar pasang tapi berhenti memainkannya dan membeli untuk koleksi, hanya agar saya bisa mempelajari cara menggambar.  Tapi membaca adalah hobi saya yang sesungguhnya.

Sejak komik Jepang muncul di Indonesia, saya beralih ke komik-komik ini dan mulai membuat cerita bergambar di kertas kwarto yang dibagi empat; satu gambar di tiap halaman, dengan balon dialog untuk karakter yang saya gambar, dan satu atau dua kalimat di bagian bawah sebagai pengantar adegan. Kemudian saya beralih ke komik sederhana: satu buku tulis dibagi delapan kotak simetris. Berkat serial Mari-Chan, saya jadi bisa menulis cerita tentang balerina walaupun saya tidak ikut kursus balet. Tanpa saya sadari, saya telah mempelajari riset untuk sebuah cerita, dan ini sangat berguna di kemudian hari.

Bagaimana pun, membeli buku untuk anak dari keluarga sederhana seperti saya terlalu mahal. Ada saat-saat istimewa setelah berjuang satu periode dan berhasil meraih rangking pertama atau kedua, di mana di saat seperti inilah ayah saya bermurah hati membelikan buku sebanyak apa pun yang saya mau–biasanya saya langsung lari ke rak Lima Sekawan dan karya-karya Enid Blyton yang lain, mengambil lima atau enam sekaligus. Sesampai di rumah biasanya beliau menepuk kepala saya dan mengingatkan untuk mempertahankan prestasi belajar saya, lalu meninggalkan saya yang bahagia bersama buku-buku baru. Ada saat-saat saya berhasil menabung cukup banyak untuk pergi ke toko buku, tapi biasanya saya hanya berhasil membeli satu-dua saja. Jadi untuk memuaskan hasrat membaca tetapi bisa berhemat, saya mencari taman bacaan.

Ketika saya SMP, perhatian saya teralih ke hobi baru saya: Bahasa Inggris. Sebenarnya saya mulai mempelajarinya saat kelas empat SD, tetapi masih bersifat main-main dan di SMP saya ingin belajar lebih. Maka hadiah prestasi yang biasanya berupa buku, kali itu saya minta les Bahasa Inggris dan dikabulkan meski saya jadi lebih jarang membeli buku karenanya. Saat kelas tiga SMP saya mengikuti sebuah lomba cerpen dan ketika saya dipanggil ke panggung untuk menerima piala, barulah saya sadar kalau saya punya bakat menulis. Tapi baik menulis maupun menggambar terlupakan karena hal-hal lain seperti OSIS, PMR, ujian SMP, Paskibra, Paduan Suara, les-les, ujian SMU, UMPTN, dan tugas-tugas kuliah. Hanya satu yang masih bisa saya lakukan: membaca.

Sampai hari ini, saya sudah menjadi anggota dari tujuh taman bacaan di luar tujuh perpustakaan sekolah yang otomatis saya ikuti (saya beberapa kali pindah sekolah dan ketika kuliah sering mengunjungi dua perpustakaan di kampus). Dan dari ketujuh taman bacaan itu tiga diantaranya boleh dibilang hampir saya habiskan seluruh koleksinya. Kedengarannya cukup gila, tapi saya baru merasakan manfaatnya di kemudian hari. Buku-buku ini ‘mengajari’ saya banyak hal.

Ketika akhirnya saya lulus, saya punya waktu untuk hobi lama saya, maka saya mulai menulis. Saya tak pernah belajar khusus untuk ini, hanya mengandalkan pelajaran Bahasa semasa sekolah dan cara penulisan di buku-buku yang saya baca selama ini. Tanpa sadar saya belajar POV kedua dari Harry Potter, dan menerapkannya untuk Zauri. Untungnya dulu saya cukup patuh EYD dan kaidah-kaidah penulisan dan masih mengingatnya, jadi tidak terlalu bermasalah. Masalah sebenarnya justru muncul di pembuatan plot dan karakterisasi (yang bahkan pada saat penulisan saya tidak paham sama sekali tentang dua hal ini, semua mengalir begitu saja). Saya cukup kaget ketika Zauri diterbitkan, ternyata saya benar-benar bisa menulis :) .

Dari menulis saya memperoleh royalti, pengetahuan baru, pengalaman dan banyak teman. Tetapi saya tidak akan lupa bahwa seperti ayat pertama Al Qur’an yang berbunyi ‘Iqra’–bacalah, semua ini berawal dari hobi saya membaca.

Posted in cerpen, menulis, my life

Malaikat Maut

1 Comment »

December 12th, 2011 Posted 4:11 pm

Angels of Death

Tuhan mungkin sedang bercanda ketika menciptakan aku dan Hagrael. Dari ratusan malaikat mautnya, hanya kami berdua yang begitu mirip satu dengan lainnya. Mulanya tak sedikitpun yang kuketahui tentangnya, sampai suatu saat di pertemuan akbar tahunan para malaikat maut, Azriel Sang Pemimpin mengumumkan bahwa malaikat maut dengan prestasi ketepatan kerja hanyalah aku dan Hagrael. Karena hadiah cuti kerja satu dekade hanya untuk satu malaikat, tak ada yang memenangkannya tahun itu. Sejak saat itu, persaingan kami terus membara. Dan sejak saat itu pula, belum ada malaikat yang memenangkan hadiah.

Read the rest of this entry »

Klarifikasi Nanowrimo

2 Comments »

December 1st, 2011 Posted 8:13 am

Sebenarnya … tidak terlalu penting.

Tapi saya agak terganggu sendiri karena orang mungkin berpikir saya sehebat itu–padahal tidak, jadi saya pikir perlu klarifikasi mengenai  proyek Nanowrimo saya.

Saya sengaja melanjutkan novel prequel Zauri yg sudah sekitar dua tahun terabaikan, dengan harapan Nanowrimo akan memaksa saya menulis lagi. Dan memang terbukti bisa, bertambah sekian bab lah, walaupun sama sekali tidak saya buat kerangkanya.

Permasalahan muncul ketika saya mulai harus membagi waktu antara menulis Karpathian Elgamb dan finishing buku saya yang menurut jadwal akhir tahun ini bisa keluar.  Mulailah jadwal menulis saya terganggu dan konsentrasi buyar. Keadaan semakin parah ketika saya harus mempersiapkan macam-macam untuk pameran Festival Pembaca Indonesia tanggal 4 Desember (datang yaa! ^.^), terutama masalah desain. Jadi, di dua minggu terakhir bulan November, di mana jumlah kata saya baru mencapai 30ribuan,  saya sudah sangat kekurangan waktu untuk menulis. Terpaksa waktu tidur terambil dan saya jadi kalong sekali lagi. Syukurnya, saya berhasil memenuhi target dan di tanggal 29 November 2011 jumlah kata saya adalah 50.150, maka saya validasilah novel saya tersebut.

Alhamdulillah.

Tapi, kemudian saya diberitahu teman yang melihat Nano saya kalau jumlah kata saya 99ribu! Lah itu dari mana asalnya, lha wong 50ribu kata saja saya sudah jungkir balik =))

Demi kebenaran *halah* maka saya perbaiki jumlah kata, kembali menjadi 50.150. Maka tenanglah saya. Sampai kemudian saya akses Nanowrimo lagi.

Dan angka itu BERUBAH LAGI jadi 500.150!

8-}

*antara pengen nangis dan pengen ketawa*

*atau mending makan semangka*

Jadi begitu ya, saudara saudari. Kondisi sebenarnya sudah saya informasikan. Ah iya, sudah diusahakan untuk revisi ulang tapi tidak berhasil, mungkin sudah ditutup. Maka saya pasrahlah novel saya yang cuma 50K dinilai sepuluh kali lipatnya oleh Nano :) )

Posted in Uncategorized

Content Protected Using Blog Protector Plugin By: Make Money.

Compression Plugin made by Web Hosting